Jejak München Maret 2015

8 Maret 2015
PM3 kedatangan utusan dari Komunitas Muslim Jerman, Herr Marwa blasteran Jerman dan Suriah. Ceramah pake bahasa Jerman, grrr….gak ngerti blasss, hehehe….

image

19 Maret 2015
Willkommen Frühling ! Sudah 2 hari ini depan Wohnung dan sekitar Jerman lumayan ramai disibukkan dengan petugas dan mobil pengeruk sampah salju. Hamparan kerikil yg memenuhi sepanjang jalan bekas salju sbg preventif kecelakaan siap dieksekusi menyambut datangnya Frühling– musim semi yang sangat ditunggu-tunggu. Waw…! Pasti indah ya bunga2 bermekaran dengan aneka warna daun di eropa. Melihat petugas ini bekerja, semangat, cepat dan totalitas tampak dari gaya kerjanya. Salut, kehidupan di sini begitu teratur dan teroganisir. Pagi2 mereka sudah harus cepat menyelesaikan tugasnya dengan harapan semua pejalan kaki juga merasakan kenyamanan berjalan. Dengan profesi seperti mereka, penghasilan juga tinggi berikut tunjangannya.
image

image

20 Maret 2015
Suasana heboh, semua orang berhamburan keluar gedung, rumah, untuk melihat gerhana matahari. Kacamata khusus dan kamera siap di tangan untuk mengabadikan kekuasaan Allah yg langka ini.

* narsis di jalan setelah lihat gerhana matahari, hehe..
image

26 Maret 2015
Melihat pemandangan begitu baaanyak ibu yang membawa balita dengan kereta uniknya, tidak bisa menepis semua memori setahun yang lalu. Manusiawi.., jika diri mengingat ‘seandainya’ wujud itu ada. Semua memori ini menari-nari di kepala, sering tertunduk menahan… Kehamilan dari 0 bulan hingga akhir penuh dengan cobaan. Fitnah hidup sehingga hubungan persaudaraan menjadi tidak manis…berupaya hiburkan diri dengan majelis ayat-ayat Robanni yang bisa mengobati hati. Berpacu semangat mempersiapkan jundi menjadi tumbuh sehat dengan nutrisi terbaik plus impian kelak kubawa jundi ini menikmati indahnya bumi Allah serta menggantung harapan mungkin ini salah satu cahaya yang memberi mahkota indah di syurga.
Kusemat juga dengan nama freundlich sebagai kenangan manis yang membawa suami ke negeri Habibie… sosok Habibie romantika dengan endingnya Ainun sang kekasih Habibie.
Hadapi ngidam tanpa suami. Hmm..ya… Mencari makanan yang pasti bisa masuk mulut, paksa..lawan nafsu manja..pacu kaki dengan menelusuri rumah makan, melihat orang lain makan yang mungkin saja membuat lidah ini tergiur. Lepaskan makanan itu… dirasa tidak cocok dan terus mencari.
Sakit yang sulit dikendali….hilang napas, HB rendah yang akhirnya mengalami ambruk dua kali. Diam tak bergeming…, badan ini tak bisa bangkit di tengah orang-orang asing hanya air mata mengalir mengkhawatiri sosok kecil di badan.
Jelang trisemester akhir, kaki mulai tak sanggup berpijak. Sudah tak kuasa berjalan dan berdiri. 3 minggu jelang kelahiran, pahlawan itu datang sebagai penghibur hati. Dengan penuh sabar merawat, jalan yang selalu dibopong.. dirangkul.. dan demam tinggi sudah tak dirasakan. Kadang terbesit apakah sampai umur ketika tiba waktunya. Tengah malam…., merangkak ke toilet karena tak tega membangunkan nyenyaknya yang penuh kelelahan merawat setiap hari dan sepanjang hari seorang diri.
Tiba bola mata hitam itu…memandang seakan ingin berada dipelukan setelah diambil paksa karena jantungnya yang melemah. Tunggu 10 jam lebih untuk menyambut asa. Akhirnya kusadari bahwa dia sudah mencapai titik klimaks.. Hanya ikhlas kukembalikan pada Rabbani.
Lawan keikhlasan itu teruji kembali ketika tak ada tangis bayi dan sepanjang mata memandang melihat anak balita…’seandainya’ tapi tak bisa berandai sebagai tanda menyesali…
Kusadari.. skenario ini sebagai karunia, bentuk kasih sayang Allah yang yang tak lepas untuk mentarbiyah diri, sabar, syukur, ikhlas. Mungkin inilah, sabar… yang berhadiahkan manisnya perjalanan hidup  ke depan dan pintu syurga yang sudah Allah siapkan lewat seorang Khayla Azzalfa Freundlich…. Alhamdulillah ‘ala kulli haal…, berusaha syukuri segala kondisi. Skenario yang tak cukup disimpan dalam memori hati, mengingatkan diri bahwa hidup ini tak akan pernah sunyi dari senang dan susah… Allah tempat kembali. Setiap kali musibah datang..maka sangat boleh jadi dibelakang sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan..
So…, tetap berusaha happy melihat pemandangan balita lucu & semoga bisa terbagi aura kebahagiaan itu.

31 Maret 2015
Silberhornstr, undangan Mittagessen teman Turki. Style makan sudah seperti Jerman; dari makanan pembuka, utama dan penutup. Tapi yang membedakan dengan budaya Turki adalah seringkali orang Jerman kalau sudah kumpul makan bersama bisa kuat ngobrol sampai tengah malam. Pernah dapat undangan makan dari orang Jerman, jam 7 malam kami sudah tidak betah di sana, tidak tahu mau ngobrol apa lagi tapi bingung mau izin pulang… 😦
Di sini, kami makan sambil ngobrol tentang keluarga dan sedikit budaya makanan negara masing2. Turki, Jepang dan Indonesia walau komunikasi seringkali kedengaran lucu karena terhambat artikulasi bicara mereka.
image

Advertisements